Kutemukan sepucuk surat didalam lokerku, pagi
ini.
Kuharap surat
ini bisa mengungkapkan kata-kata yang tidak bisa kuungkapkan padamu…
|
Surat misterius? Kuno sekali. Ini zaman modern.
Oh ayolah, orang ini seperti kapak batu yang ditemukan di masa depan. Kuhembuskan
nafas kasar yang terasa berat. “Apa itu?”, Ai mengejutkanku dari belakang. Ya
Tuhan! Aku benar-benar terkejut. Jantungku seakan melompat keluar. Kuberikan
surat itu padanya. Dan bisa langsung kutebak, Ai pasti akan tertawa terbahak-bahak.
“Haha, lucu”, kutatap Ai dengan wajah datar. Gadis itu langsung terdiam seribu
bahasa. Kucoba untuk menebak siapa yang mengirim surat itu. Oh, atau mungkin
dia salah memasukkannya ke lokerku? Konyol sekali.
“Arrrrghh! Sakit bodoh”, seorang laki-laki dengan
senyum bahagianya mengambil bola yang –secara sengaja- dilemparkan padaku. Dia
hanya tersenyum sambil berlalu melewatiku yang sudah mengutuknya dengan
beribu-ribu kata “bodoh” didalamnya. Heh? Tumben? Biasanya dia akan membalasku.
Aneh sekali. Ah, sudahlah. Kurasa itu berita baik. Haha, akhirnya laki-laki
bodoh itu jera mengerjaiku. Aku tertawa cekikikan sambil berjalan melewati
lorong kelas. Dengan wajah tidak bersalah Ai menatapku seperti melihat seorang
penjahat yang berhasil kabur dari penjara.
Ugh, tapi kurasa itu hanya akal-akalannya saja.
“Oh, baiklah. Kutunggu di sana”, kutunjuk bangku dibawah pohon mangga yang
rindang. Ai memang sedang berkumpul untuk membahas rencana lomba klub
Sains-nya. Sementara aku duduk termenung sambil menikmati tugas Sejarahku.
“Nao!!”, lengkingan suaraku membuat semua orang disana menatapku. Terkejut. Aku
juga terkejut. Laki-laki bodoh itu baru saja membuatku ‘mandi teh’. Yapp, Nao
menyiramku dengan teh yang dibawanya. Ahhh, lengket sekali. Sekali lagi kuhela
nafas panjang, agar rasa lelahku hilang. Pukulanku melayang dan mendarat dengan
tepat di bagian perutnya. Nao mengerang sakit. Aku hanya tersenyum kecut,
kemudian pergi meninggalkannya yang meringis kesakitan. Kukirim pesan singkat
ke Ai kalau aku pulang terlebih dahulu.
Maaf…
|
Lagi-lagi surat tanpa nama kutemukan di lokerku.
Sudah 2 minggu ini aku mendapat surat misterius. Dan akhir-akhir ini kalimat
“maaf” selalu menghiasi kertas berwarna lembut yang ada dilokerku. Dari
kejauhan, sayup-sayup kudengar teriakan gadis-gadis yang memekikkan telingaku.
Oh? Apa itu? Badai manusia? Mereka mengejar seseorang yang sedang berlari.
Rangkulan lembut mendarat di bahuku. Si bodoh Nao. “Ini kekasihku yang baru”,
katanya acuh tanpa memperdulikan raut wajahku yang tampak seperti orang bodoh.
Suara lebah yang semula berdenging berhenti dan hanya menyisakan nafas tertahan
seorang gadis. “Jadi, jangan mengejarku lagi”, nada mengusir terdengar jelas
ketika Nao berbicara penuh penekanan disetiap katanya. Seketika, suasana
berubah seperti padang pasir. “Aww!”, jerit Nao saat kuinjak punggung kakinya.
Salah sendiri siapa suruh merangkulku?
Dasar Nao bodoh. Laki-laki itu selalu membuatku
terlihat bodoh didepan teman-temanku. Hhh, dari sekian banyak laki-laki dengan
tampang garang, kenapa harus Nao yang jadi musuhku? Emm, maksudku…dari mukanya
saja kurasa Nao tak pantas jadi laki-laki. Bibirnya yang tipis, wajahnya yang
–menurutku- terlihat manis –aku mengutuk diriku sendiri saat aku berfikir
tentang hal ini-, serta bola mata karamel yang dijamin akan membuat semua gadis
dihadapannya meleleh seperti keju. Nao berbeda 360o denganku. Aku
tak seperti kebanyakan seorang gadis lainnya. Aku lebih memilih tidur daripada
menghabiskan waktu untuk belanja atau ke salon. Tidur membuat tenagaku bertambah
banyak. Dan tentu saja masih banyak perbedaanku dengan Nao.
Ah, ini hari
terakhir ya?
Waktu berlalu
begitu cepat..
|
Hari terakhir UNAS. Dimana semuanya dengan
semangat menyambut kelulusan yang sudah didepan mata. Begitu pula denganku.
Ahh, akhirnya ini adalah Ujian terakhir dihidupku. Bahagianya. Ya walaupun
otakku tidak sependapat dengan hatiku kali ini. Entah kenapa, kata-kata yang
terpatri diatas kertas berpola Mangga itu terus terngiang-ngiang dikepalaku dan
berhasil membuatku memikirkan sang penulis. Ah, ayo berfikir positif. Hari
terakhir UNAS jangan membuatmu kehilangan konsentrasi. Kuberikan semangat pada
diriku sendiri.
Disaat-saat terakhir SMA, tiba-tiba terbersit
ingatan saat pertama kali masuk SMA.
2010
“Hei, kau! Gadis dengan pita warna biru dan
laki-laki disampingmu, kesini!”, raut menyeramkan terpancar dengan jelas dari
wajah seorang senior. Aku salah apa sih? Senior selalu menyebalkan. Dengan
santainya laki-laki disampingku berjalan menghampiri senior tersebut. Sialnya,
karena tingkah bodoh laki-laki itu, kami dihukum untuk membersihkan daun Mangga
yang jatuh berserakan dihalaman sekolah. Orang ini benar-benar sudah kehilangan
akal sehatnya. “Ini semua gara-gara kau..”, aku terdiam sesaat untuk membaca
nama yang tertulis di topinya, “Nao!”. Laki-laki itu menatapku dengan senyuman
kecil yang tak pernah hilang –sepertinya-. “Kurasa ini pengalaman pertamamu
membersihkan halaman yang penuh dengan daun kering”, ledekan itu meluncur dari
mulutnya. “Dasar Nao bodoh!”, seandainya senior tadi tidak menatap kami, aku
yakin sapu yang ada ditanganku sudah hancur menjadi serbuk kayu.
Dan sepertinya selama 3 tahun, dimana ada pohon
Mangga dan Nao, hidupku pasti sial.
Seperti waktu praktek memasak. Kebetulan sekali,
aku dan kelompokku mendapat tempat dibawah pohon Mangga. Dan rupanya monyet
kecil itu sudah mengawasi dari atas pohon. Ketika kurebus spaghetti dan
spaghetinya matang –bodohnya aku belum sempat meniriskan spaghetti itu-, Nao
memasukkan banyak daun dari pohon Mangga yang sudah kering kedalam panciku.
Tentu saja wangi khas daun kering bercampur dengan wangi spaghetti yang baru
saja matang.
Mengingat masa lalu membuatku tidak bisa
mengerjakan soal bahasa yang terlihat mudah ini. Dan tentu saja langsung
mengingatkanku pada Nao. Aku sudah lama tak bertemu dengannya. Aku memang tidak
berada dalam satu kelas yang sama dengannya. Dan itu sudah menghilangkan
bebanku yang aku yakin tak akan pernah habis. Bel usai disambut dengan sorakan
gembira semua orang. Tak lupa juga aku berdoa agar lulus dengan nilai yang
memuaskan serta bisa masuk ke perguruan tinggi yang aku harapkan. Hari ini
panas sekali. Kurasa akan sangat nyaman kalau aku tidur di perpustakaan.
Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju perpustakaan yang tenang. Buku
per-manajemen-an yang kuambil acak kugunakan sebagai penutup muka. Tempat duduk
pojok, serta tepat dengan arah AC yang sepi menjadi pilihan utamaku. Segera
saja kurebahkan kepalaku ke meja perpustakaan, dan tak lama setelah itu aku
sudah pergi ke alam mimpi. Ini akan jadi hari terakhir aku tidur di perpustakaan
yang dingin dan tenang.
Kuharap kau
penasaran denganku
Karena aku
akan menunggumu dibawah pohon Mangga
tempat dimana
kau dihukum saat pertama MOS
Tepat
berakhirnya pesta
|
Sepertinya ini surat terakhir yang dikirimkan
penulis iseng sebelum akhirnya menampakkan ekornya padaku. Kutelusuri setiap
sudut ruangan ini. Nao tidak kelihatan tulang hidungnya. Biasanya dia yang
paling giat dengan acara seperti ini. “Terima kasih sudah memberiku kenangan
yang indah selama 3 tahun ini”, hanya itu yang dapat kuucapkan diatas podium
saat puncak acara. Semua orang yang mendengarnya bertepuk tangan dengan
semangat. Huh, kulirik jam silver yang melingkar ditanganku berkali-kali. 20
menit lagi pesta usai. Huh, aku jadi tidak sabar. “Baiklah, terima kasih kalian
sudah menyempatkan datang di pesta kali ini”, Ai –yang bertugas sebagai pembawa
acara- tersenyum. Pesta diakhiri dengan berfoto serta bersalaman untuk meminta
maaf atas kesalahan yang dibuat selama 3 tahun.
Laki-laki dengan tuksedo hitam terlihat gagah berdiri
dibawah pohon Mangga. Sinar merah lampion membuat jarak pandangku berkurang.
“Nao?! Jadi..kau?”, aku sangat sangat terkejut dengan datangnya laki-laki itu.
“Hai”, Nao tersenyum. Senyum tulus. Beda dengan senyum puas penuh kemenangannya
selama ini. Tatapan matanya benar-benar menusuk jantungku. “Kurasa kau akan
jadi semakin kuat. Karena aku sudah mengetesmu berkali-kali. Ehehe, terima
kasih sudah mau berteman denganku. Maaf, kalau misalnya kau kesal denganku”,
masih dengan senyumnya yang –terus- terlukis dibibir tipisnya. Dengan bantuan
sinar bulan yang menguatkan sinar lampion, dapat kulihat wajahnya pucat. Apa
dia sakit? Entahlah, sepertinya aku masih terlalu terkejut untuk bertanya.
Malam ini berakhir indah dibwah pancaran sang rembulan.
Ah, kurasa aku
sudah bisa tenang
Untuk
meninggalkanmu
Aku tetap akan
mengingatmu sebagai temanku
Yang paling
baik, tentu saja..
Terima kasihJ
|
2 tahun setelah peristiwa “Dibawah Sinar Malam”
–ya begitulah aku menamainya-, Nao meninggal karena penyakit tumor yang sudah
menyerangnya sejak pertama kali dia mengirimkan surat kaleng padaku. Huuh,
sungguh. Kurasa pikiranku akan menjadi lebih berat dari sebelumnya. Banyak
orang menghadiri pemakaman Nao. Tentu saja aku juga ada disana. Berada
dibarisan paling belakang. Dengan kacamata yang bertengger untuk menutupi
mataku yang bengkak akibat menangis. Uh, kurasa Nao sudah pernah berkata untuk
agar tidak menangisinya dihari kematiannya. Tapi tetap saja, aku kan seorang
gadis yang tak mungkin bisa menyembunyikan perasaan sedih. “Kurasa kau
benar-benar merindukanku. Kan sudah kubilang jangan menangis”, suara angina
terdengar bagaikan bisikan Nao. Aku hanya bisa tersenyum kecil, “Jangan terlalu
percaya diri”, gumamku singkat namun penuh dengan kebahagiaan. Dan dapat
kurasakan bahwa Nao berada disampingku dengan senyuman lembut khasnya.