Pages

Saturday, 27 April 2013

Sakura yang Terakhir



Kutemukan sepucuk surat didalam lokerku, pagi ini.

Kuharap surat ini bisa mengungkapkan kata-kata yang tidak bisa kuungkapkan padamu…

Surat misterius? Kuno sekali. Ini zaman modern. Oh ayolah, orang ini seperti kapak batu yang ditemukan di masa depan. Kuhembuskan nafas kasar yang terasa berat. “Apa itu?”, Ai mengejutkanku dari belakang. Ya Tuhan! Aku benar-benar terkejut. Jantungku seakan melompat keluar. Kuberikan surat itu padanya. Dan bisa langsung kutebak, Ai pasti akan tertawa terbahak-bahak. “Haha, lucu”, kutatap Ai dengan wajah datar. Gadis itu langsung terdiam seribu bahasa. Kucoba untuk menebak siapa yang mengirim surat itu. Oh, atau mungkin dia salah memasukkannya ke lokerku? Konyol sekali.
“Arrrrghh! Sakit bodoh”, seorang laki-laki dengan senyum bahagianya mengambil bola yang –secara sengaja- dilemparkan padaku. Dia hanya tersenyum sambil berlalu melewatiku yang sudah mengutuknya dengan beribu-ribu kata “bodoh” didalamnya. Heh? Tumben? Biasanya dia akan membalasku. Aneh sekali. Ah, sudahlah. Kurasa itu berita baik. Haha, akhirnya laki-laki bodoh itu jera mengerjaiku. Aku tertawa cekikikan sambil berjalan melewati lorong kelas. Dengan wajah tidak bersalah Ai menatapku seperti melihat seorang penjahat yang berhasil kabur dari penjara.
Ugh, tapi kurasa itu hanya akal-akalannya saja. “Oh, baiklah. Kutunggu di sana”, kutunjuk bangku dibawah pohon mangga yang rindang. Ai memang sedang berkumpul untuk membahas rencana lomba klub Sains-nya. Sementara aku duduk termenung sambil menikmati tugas Sejarahku. “Nao!!”, lengkingan suaraku membuat semua orang disana menatapku. Terkejut. Aku juga terkejut. Laki-laki bodoh itu baru saja membuatku ‘mandi teh’. Yapp, Nao menyiramku dengan teh yang dibawanya. Ahhh, lengket sekali. Sekali lagi kuhela nafas panjang, agar rasa lelahku hilang. Pukulanku melayang dan mendarat dengan tepat di bagian perutnya. Nao mengerang sakit. Aku hanya tersenyum kecut, kemudian pergi meninggalkannya yang meringis kesakitan. Kukirim pesan singkat ke Ai kalau aku pulang terlebih dahulu.

Maaf…

Lagi-lagi surat tanpa nama kutemukan di lokerku. Sudah 2 minggu ini aku mendapat surat misterius. Dan akhir-akhir ini kalimat “maaf” selalu menghiasi kertas berwarna lembut yang ada dilokerku. Dari kejauhan, sayup-sayup kudengar teriakan gadis-gadis yang memekikkan telingaku. Oh? Apa itu? Badai manusia? Mereka mengejar seseorang yang sedang berlari. Rangkulan lembut mendarat di bahuku. Si bodoh Nao. “Ini kekasihku yang baru”, katanya acuh tanpa memperdulikan raut wajahku yang tampak seperti orang bodoh. Suara lebah yang semula berdenging berhenti dan hanya menyisakan nafas tertahan seorang gadis. “Jadi, jangan mengejarku lagi”, nada mengusir terdengar jelas ketika Nao berbicara penuh penekanan disetiap katanya. Seketika, suasana berubah seperti padang pasir. “Aww!”, jerit Nao saat kuinjak punggung kakinya. Salah sendiri siapa suruh merangkulku?
Dasar Nao bodoh. Laki-laki itu selalu membuatku terlihat bodoh didepan teman-temanku. Hhh, dari sekian banyak laki-laki dengan tampang garang, kenapa harus Nao yang jadi musuhku? Emm, maksudku…dari mukanya saja kurasa Nao tak pantas jadi laki-laki. Bibirnya yang tipis, wajahnya yang –menurutku- terlihat manis –aku mengutuk diriku sendiri saat aku berfikir tentang hal ini-, serta bola mata karamel yang dijamin akan membuat semua gadis dihadapannya meleleh seperti keju. Nao berbeda 360o denganku. Aku tak seperti kebanyakan seorang gadis lainnya. Aku lebih memilih tidur daripada menghabiskan waktu untuk belanja atau ke salon. Tidur membuat tenagaku bertambah banyak. Dan tentu saja masih banyak perbedaanku dengan Nao.

Ah, ini hari terakhir ya?
Waktu berlalu begitu cepat..

Hari terakhir UNAS. Dimana semuanya dengan semangat menyambut kelulusan yang sudah didepan mata. Begitu pula denganku. Ahh, akhirnya ini adalah Ujian terakhir dihidupku. Bahagianya. Ya walaupun otakku tidak sependapat dengan hatiku kali ini. Entah kenapa, kata-kata yang terpatri diatas kertas berpola Mangga itu terus terngiang-ngiang dikepalaku dan berhasil membuatku memikirkan sang penulis. Ah, ayo berfikir positif. Hari terakhir UNAS jangan membuatmu kehilangan konsentrasi. Kuberikan semangat pada diriku sendiri.
Disaat-saat terakhir SMA, tiba-tiba terbersit ingatan saat pertama kali masuk SMA.

2010
“Hei, kau! Gadis dengan pita warna biru dan laki-laki disampingmu, kesini!”, raut menyeramkan terpancar dengan jelas dari wajah seorang senior. Aku salah apa sih? Senior selalu menyebalkan. Dengan santainya laki-laki disampingku berjalan menghampiri senior tersebut. Sialnya, karena tingkah bodoh laki-laki itu, kami dihukum untuk membersihkan daun Mangga yang jatuh berserakan dihalaman sekolah. Orang ini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya. “Ini semua gara-gara kau..”, aku terdiam sesaat untuk membaca nama yang tertulis di topinya, “Nao!”. Laki-laki itu menatapku dengan senyuman kecil yang tak pernah hilang –sepertinya-. “Kurasa ini pengalaman pertamamu membersihkan halaman yang penuh dengan daun kering”, ledekan itu meluncur dari mulutnya. “Dasar Nao bodoh!”, seandainya senior tadi tidak menatap kami, aku yakin sapu yang ada ditanganku sudah hancur menjadi serbuk kayu.
Dan sepertinya selama 3 tahun, dimana ada pohon Mangga dan Nao, hidupku pasti sial.
Seperti waktu praktek memasak. Kebetulan sekali, aku dan kelompokku mendapat tempat dibawah pohon Mangga. Dan rupanya monyet kecil itu sudah mengawasi dari atas pohon. Ketika kurebus spaghetti dan spaghetinya matang –bodohnya aku belum sempat meniriskan spaghetti itu-, Nao memasukkan banyak daun dari pohon Mangga yang sudah kering kedalam panciku. Tentu saja wangi khas daun kering bercampur dengan wangi spaghetti yang baru saja matang.

Mengingat masa lalu membuatku tidak bisa mengerjakan soal bahasa yang terlihat mudah ini. Dan tentu saja langsung mengingatkanku pada Nao. Aku sudah lama tak bertemu dengannya. Aku memang tidak berada dalam satu kelas yang sama dengannya. Dan itu sudah menghilangkan bebanku yang aku yakin tak akan pernah habis. Bel usai disambut dengan sorakan gembira semua orang. Tak lupa juga aku berdoa agar lulus dengan nilai yang memuaskan serta bisa masuk ke perguruan tinggi yang aku harapkan. Hari ini panas sekali. Kurasa akan sangat nyaman kalau aku tidur di perpustakaan. Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju perpustakaan yang tenang. Buku per-manajemen-an yang kuambil acak kugunakan sebagai penutup muka. Tempat duduk pojok, serta tepat dengan arah AC yang sepi menjadi pilihan utamaku. Segera saja kurebahkan kepalaku ke meja perpustakaan, dan tak lama setelah itu aku sudah pergi ke alam mimpi. Ini akan jadi hari terakhir aku tidur di perpustakaan yang dingin dan tenang.

Kuharap kau penasaran denganku
Karena aku akan menunggumu dibawah pohon Mangga
tempat dimana kau dihukum saat pertama MOS
Tepat berakhirnya pesta

Sepertinya ini surat terakhir yang dikirimkan penulis iseng sebelum akhirnya menampakkan ekornya padaku. Kutelusuri setiap sudut ruangan ini. Nao tidak kelihatan tulang hidungnya. Biasanya dia yang paling giat dengan acara seperti ini. “Terima kasih sudah memberiku kenangan yang indah selama 3 tahun ini”, hanya itu yang dapat kuucapkan diatas podium saat puncak acara. Semua orang yang mendengarnya bertepuk tangan dengan semangat. Huh, kulirik jam silver yang melingkar ditanganku berkali-kali. 20 menit lagi pesta usai. Huh, aku jadi tidak sabar. “Baiklah, terima kasih kalian sudah menyempatkan datang di pesta kali ini”, Ai –yang bertugas sebagai pembawa acara- tersenyum. Pesta diakhiri dengan berfoto serta bersalaman untuk meminta maaf atas kesalahan yang dibuat selama 3 tahun.
Laki-laki dengan tuksedo hitam terlihat gagah berdiri dibawah pohon Mangga. Sinar merah lampion membuat jarak pandangku berkurang. “Nao?! Jadi..kau?”, aku sangat sangat terkejut dengan datangnya laki-laki itu. “Hai”, Nao tersenyum. Senyum tulus. Beda dengan senyum puas penuh kemenangannya selama ini. Tatapan matanya benar-benar menusuk jantungku. “Kurasa kau akan jadi semakin kuat. Karena aku sudah mengetesmu berkali-kali. Ehehe, terima kasih sudah mau berteman denganku. Maaf, kalau misalnya kau kesal denganku”, masih dengan senyumnya yang –terus- terlukis dibibir tipisnya. Dengan bantuan sinar bulan yang menguatkan sinar lampion, dapat kulihat wajahnya pucat. Apa dia sakit? Entahlah, sepertinya aku masih terlalu terkejut untuk bertanya. Malam ini berakhir indah dibwah pancaran sang rembulan.

Ah, kurasa aku sudah bisa tenang
Untuk meninggalkanmu
Aku tetap akan mengingatmu sebagai temanku
Yang paling baik, tentu saja..
Terima kasihJ

2 tahun setelah peristiwa “Dibawah Sinar Malam” –ya begitulah aku menamainya-, Nao meninggal karena penyakit tumor yang sudah menyerangnya sejak pertama kali dia mengirimkan surat kaleng padaku. Huuh, sungguh. Kurasa pikiranku akan menjadi lebih berat dari sebelumnya. Banyak orang menghadiri pemakaman Nao. Tentu saja aku juga ada disana. Berada dibarisan paling belakang. Dengan kacamata yang bertengger untuk menutupi mataku yang bengkak akibat menangis. Uh, kurasa Nao sudah pernah berkata untuk agar tidak menangisinya dihari kematiannya. Tapi tetap saja, aku kan seorang gadis yang tak mungkin bisa menyembunyikan perasaan sedih. “Kurasa kau benar-benar merindukanku. Kan sudah kubilang jangan menangis”, suara angina terdengar bagaikan bisikan Nao. Aku hanya bisa tersenyum kecil, “Jangan terlalu percaya diri”, gumamku singkat namun penuh dengan kebahagiaan. Dan dapat kurasakan bahwa Nao berada disampingku dengan senyuman lembut khasnya.